Rabu, 09 Maret 2011

KIAMAT



"Pembukaan"


Demi yang Maha welas asih...
untuk Mu segala puja yang mendidik semesta..
Yang Maha kasih sayang,
Penguasa hari pembalasan,
Yang menunjuki kami hati yang lurus,
Mereka itu yang lurus hatinya,yang menjadi kekasih Mu,




Seorang Adam beserta Hawanya,dalam suatu senja yang molek.Di beranda gubuk mereka.

"Sayang,bisakah kita bahagia nantinya...???",Hawa memulai
"tentu sayang,,kenapa tidak?..bukankah kita saling mencintai,kita tak pernah saling memarahi,apalagi memaki,,lalu Adam pun memeluk Hawa,mencumbunya,sembari menggenggam tangannya..."Lihat lah sayang,,,kita saling memeluk,mencumbu..kau bisa merasakan bukan kalau aku mencintaimu...begitupun dengan mu..kita ini selalu bersama kan,susah senang,siang malam,senja maupun fajar...kita ini selalu bersama..."tambahnya.

"lelaki ku....benar sekali,aku bahagia..aku bisa merasakannya...kenapa juga aku masih bertanya padamu...ah,bodoh nya aku ini..."si Hawa memerah mukanya,

selang berapa saat,lewat seorang pandai.Bening mukanya,bersorban putih.Tampan sekali parasnya.Beserta dengan seorang perempuan.Digandengnya si perempuan baik-baik,seperti tengah memegangi sebuah rubi yang amat berharga agaknya.

lalu berucaplah si orang Pandai itu kepada Adam Hawa,
"Lusa itu bakal ada kiamat..bersiaplah kalian ini,"katanya sambil tersenyum

si Hawa menyahut,"kiamat??????"..

"iya,kiamat...belum pernahkah kalian dengar yang seperti itu?"tambah si orang Pandai Lagi.Perempuan yang tengah di genggam tangannya ikut tersenyum.

"iya sayang,kiamat..aku pernah dengar yang seperti itu..mengerikan sekali katanya"
si Adam mencoba menjelaskan kepada si Hawa,

"oh,aku percaya kalo kamu juga bilang seperti itu...mengerikan sekali...seperti apa kiamat itu?"si Hawa tambah penasaran

"katanya,nanti kita bisa merasakan bumi ini diputar putar...kau ingat Sang Bromo nan elok luar biasa yang pernah aku ceritakan?,itu bakal hancur.."

"bagaimana bisa seperti itu....oh..aku takut sayang.."si Hawa meremas tangan si Adam,

Perempuan yang di gandeng si orang Pandai ikut berkata "memang begitu,kata Lelaki ku juga seperti demikian.."..

"nanti kalian,kami..beserta manusia lain akan di kumpulkan di lapangan Masyar...kalian tahu kalau lapangan itu beda dengan Gelora bung Karno...tak ada kursi kursi VIP,atau sebagainya...lapangan itu panas sekali,sangat panas...itu adalah lapangan terluas sepanjang sejarah,,lusa kalau tiba saat kiamat,kalau kalian sedang lelap tertidur di ranjang mesra kalian,kalian akan tiba tiba terbangun..kalau kalian tengah sibuk memetik anggur anggur di kebun kalian,tiba tiba kalian akan terhenti,bahkan kalau kalian hari ini mati,maka kalian akan dihidupkan lagi lusa,,,pada saat kiamat itu..."lanjut si orang Pandai dengan latahnya,

"maaf Tuan,anda menakuti perempuanku..."kata si Adam yang mulai cemas melihat raut Hawa nya.

2 komentar:

  1. Dindha, imajinasimu liar. Menarik sebenarnya kalau "napas penceritaanmu" lebih panjang. Gambarkanlah setiap adegan lebih detail, misalnya bagaimana suasana ketika Adam dan Hawa ngobrol. Ekspresi orang pandai dan perempuan yang bersamanya juga perlu dibuat detail. Yah, pelan-pelan, tapi mencoba terus ya. Jangan lupa, banyak-banyak baca! Writing is reading.

    BalasHapus